Oleh: yesinovarita22 | April 17, 2010

INTEGRASI ILMU AGAMA ISLAM DAN ILMU UMUM (SEKULAR) DALAM PANDANGAN AL QUR’AN DAN SUNNAH

1.0 PENDAHULUAN

Dewasa ini kita sudah terbiasa dengan sebutan Ilmu Agama Islam dan Ilmu Umum (secular). Ilmu Agama Islam yang berbasiskan kepada wahyu, hadith nabi, penalaran dan fakta sejarah sudah berkembang demikian pesat. Kita misalnya mengenal Ilmu Kalam, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Filsafat, Tasawuf, Tafsir, Hadith, sejarah dan peradabab Islam.

Selanjutnya Ilmu Umum berbasiskan kepada penalaran akal dan data empirik juga mengalami perkembangan yang lebih pesat lagi dibandingkan dengan ilmu-ilmu umum ini secara garis besar dapat dibahagi kepada tiga bahagian. Pertama, ilmu umum yang bercorak naturalis dengan alam raya dan fisik sebagai objek kajiannya. Yang termasuk ke dalam ilmu ini iaitu fisika, biologi, kedokteran, astronomi, geologi, botani dan sebagainya. Ilmu umum yang demikian itu selanjutnya disebut dengan sains. Kedua, ilmu umum yang bercorak sosialis dengan perilaku sosial/ manusia sebagai objek kajiannya. Yang termasuk ke dalam ilmu ini adalah antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, pendidikan, komunikasi, psikologi dan lain sebagainya. Ketiga, ilmu umum yang bercorak filosofis penalaran. Yang termasuk ke dalam ilmu ini antara lain adalah filsafat, logika, seni dan ilmu-ilmu humaniora lainnya.

2.0 LATAR BELAKANG PERLUNYA INTEGRASI ILMU-ILMU AGAMA ISLAM DAN ILMU-ILMU UMUM

Maraknya kajian dan pemikiran integrasi keilmuan (Islamisasi ilmu pengetahuan) dewasa ini yang sering dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim, antara lain Naquib al Attas dan Ismail al Faruqi (1984: ix-xii), tidak terlepas dari kesadaran berislam di tengah pergumulan dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia, misalnya berpendapat bahawa umat Islam akan maju dan dapat menyusul Barat manakala dapat mentransformasikan ilmu pengetahuan dalam memahami wahyu, atau sebaliknya, mampu memahami wahyu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Potensi keyakinan terhadap system Islam yang bisa mengungguli system ilmu pengetahuan Barat yang tengah mengalami krisis identitas inilah yang kemudian memberikan kesadaran baru kepada umat Islam untuk melakukan upaya Islamisasi ilmu pengetahuan. Dan hal ini telah dimulai. Yusuf al Qardawi, Fazlur Rahman, Umer Chapra, Malik B. Badri adalah tokoh penggerak Islamisasi ilmu pengetahuan yang mengemukakan berbagai ide-ide alternative yang bersumber dari ajaran Islam sebagai koreksi terhadap system ilmu pengetahuan Barat (konvensional) yang dinilai memiliki banyak kelemahan mendasar (Muhammad Djakfar, 2002: 253). Rahman bahkan mengakui bahawa system ilmu pengetahuan Barat ada yang disetujui Islam, tetapi tidak sedikit yang ditolak, kerana tidak sesuai dengan kandungan Al Qur’an. Di samping itu, dunia modern pun telah berkembang melalui ilmu pengetahuan yang sama sekali tidak islami. Sebab, dunia modern telah salah memanfaatkan ilmu pengetahuan.

Usaha menuju integrasi keilmuan sejatinya telah di mulai sejak abad ke-9, meski mengalami pasang surut. Pada masa Al Farabi gagasan tentang kesatuan dan hirarki ilmu yang muncul sebagai hasil penyelidikan tradisional terhadap epistemology serta merupakan basis bagi penyelidikan hidup subur dan mendapat tempatnya. Gagasan kesatuan dan hirarki ilmu ini menurut Al Farabi, berakar pada sifat hal-hal atau benda-benda. Ilmu merupakan satu kesatuan kerana sumber utamanya hanay satu, yakni intelek Tuhan. Tidak peduli dari saluran mana sahaja, manusia sebagai pencari ilmu pengetahuan telah mendapatkan ilmu itu (Osman Bakar, 1998: 61). Dengan demikian, gagasan integrasi keilmuan Al Farabi dilakukan atas dasar wahyu Islam dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadith.

Integrasi keilmuan Al Farabi dimanifestasikan dalam hirarki keilmuan yang dibuatnya. Ia menyebutkan tiga kriteria dalam penyusunan hirarki ilmu. Pertama, berdasarkan kemuliaan subjek ilmu. Dari sini Al Farabi memandang bahawa astronomi memenuhi kriteria materi subjek yang mulia kerana berkaitan dengan benda-benda yang paling sempurna, iaitu benda-benda langit atau benda-benda angkasa; Kedua, kedalaman bukti-bukti yang didasarkan atas andangan tentang sistematika pernyataan kebenaran dalam berbagai ilmu yang ditandai oleh perbezaan derajat kejelasan dan keyakinan; Ketiga, berdasarkan besarnya manfaat suatu ilmu. Kriteria ketiga ini berkaitan secara langsung dengan masalah hukum etika.(Abuddin Nata et.al, 2005)

Berbagai model integrasi keilmuan (Islamisasi ilmu pengetahuan) dilakukan dengan mengikuti alur pendekatan. Dalam konteks Indonesia misalnya, usaha integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum pernah dilakukan oleh M. Natsir sebagaimana yang tertuang dalam buku Capita Selekta. Menurut M. Natsir, pendidikan Islam yang integral tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama . kerana penyatuan antara sistem-sistem  pendidikan Islam adalah tuntutan aqidah Islam. Usaha Natsir untuk mengintegrasikan sistem pendidikan Islam direalisasikan dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam, yang menyatukan dua kurikulum, antara kurikulum yang dipakai di sekolah tradisional yang lebih banyak memuat pelajaran agama dengan sekolah Barat yang banyak memuat  pelajaran umum (Armai Arief,tt ).

Manakala gagasan Al Faruqi dan Al Attas yang tertuang pada saat konferensi dunia yang pertama diadakan di Makkah pada tahun 1977. Salah satu gagasan krusial yang dikemukakan yang menyangkut Islamisasi pengetahuan, yang dilontarkan oleh Ismail Al Faruqi dalam makalahnya berjudul Islamicizing Social science( Sajjad Husein dan Ali Ashraf, 1986) dan Muhammad Naquib Al Attas dengan Makalahnya berjudul Preliminary Thouht on the Nature of Knowledge an the Definition and the aim of Education (Al Attas, 1981)

Al Faruqi menyatakan bahawa sistem pendidikan Islam telah dicetak dalam sebuah karikatur Barat sehingga dipandang sebagai inti malaise atau penderitaan yang dialami umat( Al Faruqi, 1984). Al Faruqi juga menganggap sistem pendidikan yang kini berjalan di dunia Islam terbelah atas dua cabang; “modern” yang sekular dan sistem “tradisional” merupakan simbol kejatuhan peradaban umat Islam. Kerana sesungguhnya setiap aspek harus dapat mengungkapkan relevansi Islam dalam ketiga sumbu tauhid. Pertama, kesatuan pengetahuan; kedua, kesatuan hidup; ketiga, kesatuan sejarah (Al Faruqi,1984). Sementara itu, menurut Al Attas, tantangan terbesar yang tengah dihadapi umat Islam dewasa ini adalah berupa tantangan pengetahuan, bukan dalam bentuk sebagai kebodohan tetapi pengetahuan yang dipahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat.

Dikhotomi ilmu sebagai penyebab kemunduran berkepanjangan umat Islam ini sudah berlangsung sejak abad ke 16 hingga abad ke 17 yang dikenal sebagai abad stagnasi pemikiran Islam. Kondisi ini merupakan imbas dari kelesuan bidang politik dan budaya. Umat Islam saat ini cenderung bernostalgia dengan masa kejayaannya di abad pertengahan, sehingga lupa kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Menanggapi hal ini, para sarjana Barat mengatakan bahawa rasa  kebanggaan dan keunggulan budaya Islam di Masa lampau telah membuat para sarjana Muslim tidak mampu menghadapi tantangan-tantangan yang dilemparkan oleh para sarjana Barat. Padahal, bila tantangan tersebut ditanggapi secara positif dan arif, maka dunia Islam dapat melakukan proses Islamisasi ilmu pengetahuan baru itu, kemudian memberinya arah baru ( Abdul Hamid, 1994: 50)

Selain itu, modernisasi terhadap system pendidikan yang dilakukan dengan cara memadukan antara dua ideology Barat: Teknikisme dan Nasionalisme, menurut Ziauddin Sardar (1986:75) sangat membahayakan system Pensisikan Islam. Apalagi, ketika budaya Barat di terima secara total bersama dengan adopsi ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sebab, mereka yang menganut pandangan tersebut berkeyakinan bahawa kemajuanlah yang penting, bukan agama. Oleh itu, kajian agama dibatasi bidangnya.

Tajul Arifin(1987) menyatakan bahawa untuk menyelesaikan permasalahan yang melanda ummah dewasa ini, iaitu adanya dua system yakni system agama dan system secular (umum) disatukan dan disepadukan iaitu dengan menanggapi ilmu secara sepadu di antara akal dan wahyu dengan akidah sebagai teras atau paksinya.

Dikhotomi ini pada kelanjutannya akan berdampak negative terhadap kemajuan Islam. Menurut Ikhrom (2001:87-89), setidaknya ada empat masalah akibat dikhotomi ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Pertama, munculnya ambivalensi dalam system pendidikan Islam. Kedua, munculnya kesenjangan antara system pendidikan Islam dan ajaran Islam. Ketiga, terjadinya disintegrasi system pendidikan Islam. Keempat, munculnya inferioritas pengelola lembaga pendidikan Islam.

Dengan demikian, paradigma integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum muncul sebagai bentuk kekhawatiran sebagian pemikir Muslim terhadap ancaman yang sangat dominan terhadap pandangan non Muslim, khususnya pandangan ilmuwan Barat sehingga umat Islam harus menyelamatkan identitas dan otoritas ajaran agamanya. Juga, integrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum berarti usaha mengislamkan atau melakukan purifikasi (penyucian) terhadap ilmu pengetahuan produk Barat yang selama ini dikembangkan dan dijadikan acuan dalam wacana pengembangan system pendidikan Islam, agar diperoleh ilmu pengetahuan yang bercorak “khas Islami”.

3.0 PARADIGMA ILMU-ILMU AGAMA ISLAM DAN ILMU-ILMU UMUM

Ilmu-ilmu agama Islam atau dalam bahasa yang digunakan oleh al Ghazali disebut al ulum al syari’ah merupakan ilmu-ilmu yang diperoleh  dari nabi-nabi dan tidak hadir melalui akal seperti aritmatika; atau melalui riset seperti ilmu kedokteran; atau melalui  pendengaran seperti ilmu bahasa. Sedangkan ilmu-ilmu umum atau yang disebut dengan ilmu intelektual (al ulum al aqliyah) adalah berbagai ilmu yang dicapai atau diperoleh melalui intelek manusia semata (Osman Bakar, 1998).

Menurut Al Syirazi, ilmu-ilmu agama ini dikategorikan dalam ilmu-ilmu non filsafat (al ulum ghoiru hikmy). Ilmu-ilmu  religious diklafikasikan menurut dua cara berbeza: (1) klasifikasi dalam ilmu-ilmu naqli dan ilmu-ilmu intelektual (aqli); (2) klasifikasi dalam ilmu tentang pokoko-pokok (ushul) dan ilmu tentang cabang-cabang (furu’). Yang dimaksud dengan ilmu naqli adalah ilmu-ilmu yang hanya dapat dibangun dengan bukti-bukti yang didengar atau dinukilkan dari otoritas yang relevan. Sebagai contonnya adalah ibadah shalat dan puasa. Sedangkan ilmu aqli adalah ilmu yang dapat ditetapkan dengan intelektual manusia, tidak jadi masalah, apakah ada bukti naqlinya atau tidak. Misalnya pengetahuan tentang keberadaan Allah dan pengetahuan tentang reality (hakikat)  kenabian dapat didemonstrasikan secara rasional (Osman Bakar, 1998).

Manakala ilmu-ilmu umum (al ulum al aqliyah) adalah ilmu yang dicapai atau diperoleh melalui  pemikiran manusia semata. Al Ghazali membagi ilmu umum ke dalam beberapa ilmu iaitu matematik, logic, fisika dan ilmu-ilmu tentang wujud yang berada di luar alam atau metafizik seperti ontology, pengetahuan tentang esensi, sifat dan aktiviti Ilahi dan lain sebagainya.(Osman Bakar, 1998).

Dari paradigma ilmu-ilmu agama islam dan ilmu-ilmu umum di atas, ada semacam dikhotomi ilmu. Namun harus dipahami bahawa ada tujuan tertentu dalam dikhotomi ilmu ini. Al Ghazali misalnya  mendikhotomi ilmu pengetahuan ke dalam ilmu religious (agama) dan ilmu intelektual (ilmu umum) dilakukan dengan maksud untuk mempermudah klasifikasinya tentang ilmu pengetahuan ke dalam kategori ilmu fardhu a’in dan ilmu fardhu kifayah. Meskipun demikian, Al Ghazali tidak memandang antara ilmu agama dan ilmu umum bertentangan. Kerana, keduanya saling melengkapi. Keterbatasan akal sebagai ilmu umum mengharuskan adanya bimbingan wahyu yang merupakan sumber ilmu agama Islam. Demikian juga keterbatasan wahyu memerlukan interpretasi akal.

Dengan demikian, menurut Naquib al Attas, kebanyakan ilmu dan disiplin ilmu, khususnya yang mendapat pengaruh filsafat Yunani (Aristoteles dan Meoplatonisme), pada masa kemajuan Islam telah diislamkan oleh pelbagai cendekiawan dan cerdik pandai yang memiliki otoritas dibidangnya dan mendapatkan pendidikan yang mengintegrasikan dua kategori fardhu ain dan fardhu kifayah serta menguasai ilmu-ilmu yang relevan. (Al Attas, 1981)

Namun, yang paling menonjol dan prestasi yang masih belum tertandingi, jika tidak digantikan, adalah kemampuan umat Islam mengembangkan ilmu-ilmu baru yang diilhami Islam, seperti ilmu tafsir Al Qur’an dan ilmu hukum (fiqih) oleh Malik, Abu Hanifah, dan Syafi’I; teologi (kalam) oleh Asy’ari dan al Maturidi; Psikologi spiritual-kognitif dan behavioral oleh sufi; perbandingan agama oleh al Buruni dan lain sebagainya( Al Attas, 1981, 343-4)

4.0 PANDANGAN AL QURAN DAN AL SUNNAH TENTANG ILMU-ILMU AGAMA ISLAM DAN ILMU-ILMU UMUM

Ketika al Qur’an diturunkan ilmu pengetahuan telah berkembang di Mesir, Yunani, Romawi, India, Cina, Persia dan lainnya. Namun ilmu-ilmu yang berada di daerah-daerah tersebut sudah tidak berkembang lagi, kerana faktor yang bersifat politik. Pada saat Islam datang, falsafah Yunani sudah tidak berkembang lagi di Athena, melainkan berkembang di Negara-negara Timur Tengan seperti Alexandria, Nisisibi, Jundisapur dan sebagainya. Bahkan Neo Platonisme yang dikembangkan oleh Potinus tumbuh dan berkembang di Mesir. (Harun Nasution, 1978)

Islam mencoba menganalisis mengenai faktor penyebab utama terjadi keadaan dunia yang Chaos tersebut. Pilihannya adalah bahawa faktor penyebab utama terjadinya keadaan yang demikian itu adalah kerana tidak berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap pendidikan.

Al Qur’an dan Sunnah sesungguhnya tidak membezakan antara ilmu agama Islam dengan ilmu-ilmu umum. Yang ada dalam Al Qur’an adalah ilmu. Pembagian adanya ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum adalah merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber objek kajiannya. Jika objek ontologisme yang dibahasnya wahyu (al Qur’an) termasuk penjelasan atas wahyu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, berupa hadith dengan menggunakan metode ijtihad, maka yang dihasilkannya adalah ilmu-ilmu agama seperti teologi, fiqih, tafsir, hadis, tasawuf dan lain sebagainya. Kemudian jika objek ontologism yang dibahasnya alam jagat raya, seperti langit, bumi serta isi yang ada didalamnya yakni matahari, bul;an, bintang, tumbuh-tumbuhan, binatang, air, api, udara, batu-batuan dan sebagainya dengan menggunakan metode penelitian eksperimen di laboratorium, pengukuran, penimbangan dan sebagainya, maka yang dihasilkannya ialah ilmu alam seperti ilmu fisika, biologi, kimia, astronomi dan lain-lain.(Abuddin Nata et.al, 2005).

Selanjutnya jika yang dijadikan objek kajian ontologisnya perilaku sosial dalam segala aspek, baik perilaku politik, perilaku ekonomi, perilaku budaya, perilaku agama dan perilaku sosial yang dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sosial seperti wawancara, observasi, penelitian terlibat (grounded research) maka yang dihasilkan ialai ilmu-ilmu sosial seperti ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu budaya, sosiologi agama, sosiologi, antropologi dan sebagainya.(Abuddin Nata et.al,2005)

Seterusnya, jika objek pemikirannyaadalah akal  pikiran atau pemikiran yang mendalam dengan menggunakan metode mujadalah atau logika terbimbing yang dihasilkan  adalah falsafah dan ilmu-ilmu humaniora. Dan yang terakhir jika objek kajiannya berupa intuisi dengan menggunakan metode penyucian bathin (tazkiyah al nafs), ilmu yang dihasilkan adalah ilmu ma’rifah.

Ilmu-ilmu tersebut seluruhnya pada hakikatnya berasal dari Allah, kerana sumber-sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam sejagat raya (termasuk hukum-hukum yang ada didalamnya), manusia dengan perilakunya, akal pikiran dan intusi batin seluruhnya ciptaan dan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian, para ilmuwan dalam berbagai bidang ilmu tersebut sebenarnya bukan pencipta ilmu tapi penemu ilmu, penciptanya adalah Tunan. Atas dasar pandangan integrated (tauhid) tersebut maka seluruh ilmu hanya dapat dibedakan dalam nama dan istilahnya sahaja, sedangkan hakikat dan substansi ilmu tersebut sebenarnya satu dan berasal dari Tuhan. Atas dasar pandangan ini, maka tidak ada pandangan dikhotomis yang mengistimewakan antara satu ilmu atas ilmu yang lain.

Sesetengah sarjana Muslim berpendapat bahawa frasa islamisasi tidak sesuai digunakan dalam semua bidang ilmu. Ini kerana proses ilmu tidak memasukkan ilmu tradisional Islam kerana ia bersumber kan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw dan mungkin tidak berubah. Oleh itu frasa Islamisasi Ilmu semasa atau Islamisasi ilmu masa kini lebih cepat untuk diguna pakai apabila merujuk kepada ilmu moden. Al Attas adalah salah seorang tokoh yang menggunakan istilah Islamisasi ilmu secara umum. Ini disebabkan beliau tidak memasukkan ilmu islam dalam skop islamisasi ilmu. Al Faruqi pula lebih cenderung untuk menggunakan istilah “Islamisasi Ilmu Moden” ataupun “Islamisasi disiplin Ilmu” dalam menyampaikan pemikirannya mengenai gagasan Islamisasi Ilmu (Rosnani Hashim & Imron Rossidy, 2000)

Pengislaman ilmu dari perspektif al Faruqi bermaksud penyatuan atau penggabungan antara dua system iaitu membawa pengetahuan Islam ke pengetahuan moden dan pengetahuan moden ke dalam system islam. Bukan sekadar itu sahaja, islamisasi ilmu juga bermakna mengislamkan disiplin-disiplin moden dan menghasilkan buku-buku rujukan university (Al Faruqi, 1982)

Abuddin Nata et.al (2005) menyatakan bahawa Al Qur’an dan Sunnah tidak mengenal adanya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini dapat dipahami dari uraian berikut ini.

Pertama, di dalam ajaran Islam setiap penganutnya dianjurkan agar meraih kebahagiaan hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat. Hal ini misalnya dapat dipahami dari ayat Al Quran dan Hadith berikut ini.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah melupakan bahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (QS. Al Qashash[28]: 77)

Dan diantara mereka ada orang yang berdo’a: Ya, Tuhan Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari api neraka. (QS. Al Baqarah, [2]: 201)

Di dalam hadith Rasulullah Saw, dinyatakan: “Bekerjalah untuk mencapai kebahagiaan hidupmu di dunia seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk mencapai kebahagiaan hidupmu di akhirat seolah-olah engkau akan meninggal besok pagi.” (HR Ibn Asakir). (Ahmad Hasyimi, 1948)

Untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat tersebut memerlukan iolmu pengetahuan. Kebahagiaan hidup di akhirat akan dicapai dengan mengamalkan ilmu agama dan ilmu umum atas dasar niat kerana Allah. Hal ini lebih lanjutnya dinyatakan dalam Hadith Rasulullah yang artinya: “Barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan hidup di dunia haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya haruslah dengan ilmu.”

Kedua, Al Qur’an dan Hadith Rasulullah Saw. Melarang seseorang mengatakan sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya dari yang dikatakannya itu. Hal ini mengingatkan kepada manusia, bahawa ia harus memiliki ilmu pengetahuan tentang apa yang dikatakannya. Dengan kata lain, seseorang tidak boleh taklid buta, kerana apa yang kita katakana akan dimintakan pertanggungjawabannya di sisi Tuhan. Kenyataan ini banyak kita jumpai dalam ayat Al Qur’an dan Hadith. Kita misalnya membaca ayat sebagai berikut:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”(QS Al Isra’[17]: 36)

Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat. (QS. Al Hajj, [22]:3)

Ketiga, Al Qur’an dan Al Sunnah selain berbicara tentang objek ilmu agama dan ilmu umum seperti ayat-ayat Allah yang ada di dalam wahyu (kitab suci) yang diturunkannya, ayat-ayat Allah yang berada di jagat raya (alam semesta dengan segala hokum yang ada didalamnya), ayat-ayat Allah yang ada pada diri manusia (ayat-ayat insaniyah, basyariyah, al nasiyah), ayat-ayat Allah yang menjelaskan fungsi akal serta hati nurani, yang selanjutnya menjadi dimensi ontologism dalam ilmu pengetahuan, juga berbicara tentang metode pengembangan ilmu dan pemanfaatannya. Quraish Shihab (1996) mengatakan bahawa kata “ilmu” dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Lebih lanjut ia mengatakan bahawa ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan, kerana itu segala yang terbentuk dari akat hanya mempunyai cirri kejelasan. Perhatikan misalnya kata ‘alam (bendera), ulmat (bibir sumbing), a’lam (gunung-gunung), ‘alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.

Dalam pengemabangan ilmu dan teknologi observasi dan meniru mekanisme kerja ciptaan-Nya merupakan hal yang lazim. Misalnya saja meniru konsep fungsi sayap dan ekor dalam pembuatan pesawat, capung dalam mendesain helicopter, ikan paus dalam pembuatan kapal selam dan sebagainya.

Selanjutnya Quraish Shihab (1996) menyatakan bahawa pandangan epistemologi Al Qur’an tentang bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut berbeda dengan yang ada dan dikembang di Barat. Jika di Barat pengembangan ilmu hanya menggunakan pancaindera, akal dan hati sahaja, dalam Islam semua alat untuk mencapai ilmu tersebut harus disertai dengan penyucian batin. Untuk itu bekali-kali Al Qur’an menegaskan bahawa Inna Allah La yahdi (sesungguhnya Allah tidak akan member petunjuk kepada al zhalimin(orang yang berlaku aniaya), al Kafirin (orang-orang yang kafir), al fasiqin (orang-orang yang fasik/melanggar ketentuan Allah dan RasulNya secara sengaja), manyuhdil (orang yang disesatkan), man huwa kadzibun kaffar (pembohong lagi amat ingkar), musrifin kazzab (pemboros lagi pembohing) dan lain sebagainya.

Petunjuk Al Qur’an yang menginformasikan tentang pentingnya mengintegrasikan kesucian bathin dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan ini sudah dipraktekkan oleh para ulama di masa lalu. Imam Syafi’I yang dikenal sebagai Fuqaha yang besar pengaruhnya selalu memelihara kesucian bathinnya. Dalam suatu kesempatan ia pernah mengadu kepada gurunya, Waqi’, kerana sulitnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Gurunya itu mengingatkannya agar menyucikan bathinnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Al Bukhari yang dikenal sebagai ulama besar dalam bisang hadis.

Selanjutnya dalam bidang aksiologi ilmu pengetahuan, Al Qur’an mengingatkan bahawa selain ilmu pengetahuan sama ada agama mahupun umum sebagai milik Allah Swt dan harus diabdikan dalam rangka beribadah kepada-Nya, juga harus disertai dengan memiliki sifat dan ciri-ciri tertentu pula. Antara lain yang paling menonjol adalah sifat khasyal (takut dan kagum kepada Allah) sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah yang maknanya:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama. (QS. Fathir, [35]: 28)

Dalam konteks ini, ulama ialah mereka yang memiliki pengetahuan tentang fenomena alam. Timbulnya rasa takut dan penuh kagum kepada Allah tersebut disebabkan kerana setelah ia mendalami ilmu pengetahuan dengan memahami jagat raya dengan segala isinya sebagaimana tersebut di atas, ia merasa bahawa kekuasaan Allah itu demikian luas, dan manusia merasa kecil dihadapannya, serta tidak mungkin untuk menandinginya.(Abuddin Nata et.al 2005)

Dengan kerangka berfikir aksiologi keilmuan yang demikian itu, maka Islam menganjurkan dan mendorong agar umat manusia mengembangkan ilmu pengetahuan apa sahaja, sehingga ia menjadi ahli agama, ahli ekonomi, ahli politik, ahli fisika, ahli biologi, ahli kedokteran, ahli pertanian, ahli pertahanan keamanan, ahli berkomunikasi dengan Tuhan dan sebagainya, dengan ketentuan ilmu-ilmu tersebut diabdikan dalam rangka beribadah kepada Allah melalui pemanfaatannya untuk tujuan-tujuan kemanusiaan, peningkatan harkat dan martabat manusia, menciptakan kesejahteraan sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, pembinaan akhlak yang mulia serta penciptaan kedamaian di muka bumi.

Hal yang demikian perlu ditegaskan, kerana dalam rangka membangun peradaban manusia dan kesejahteraannya tidak hanya cukup dilakukan oleh ahli ilmu agama saja, melainkan harus dilakukan bersama-sama dengan para ahli lainnya. Untuk memciptakan masyarakat yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia diperlukan ahli ilmu agama; untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan ahli ekonomi; untuk meningkatkan kesehatan masyarakat diperlukan para dokter; untuk menciptakan keamanan dan ketenteraman diperlukan ahli pertahanan keamanan; untuk menciptakan produktivitas hasil pertanian diperlukan ahli pertanian; untuk menciptakan lingkungan sosial fisik diperlukan ahli tata lingkungan, demikian seterusnya. Untuk menghasilkan tenaga-tenaga ahli yang demikian itu diperlukan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam.

Namun, pandangan integralistik tentang ilmu pengetahuan sebagaimana yang tercermin dalam konsep ontology, epistemology dan aksiologi sebagaimana tersebut tidak berarti bahawa setiap manusia dapat menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan demikian luas, dan setiap jenis ilmu pengetahuan memiliki cabang yang amat banyak, dan untuk mengetahui satu cabang sahaja dengan tuntas tidak mungkin dapat dilakukan manusia. Waktu, usia dan kemampuan yang dimiliki manusia tidak mungkin cukup untuk mendalami satu cabang sahaja dari ilmu pengetahuan.

Untuk mencapai hal di atas, maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan cara memahami secara global pohon ilmu pengetahuan dengan cabang-cabangnya secara umum, setelah itu barulah seseorang mengkhususkan diri mendalami suatu cabang ilmu pengetahuan, sambil terus mengembangkannya disertai perasaan bahawa yang kita miliki itu tidak ada artinya apa-apa dibandingkan dengan ilmu yang Allah miliki, ilmu yang kita miliki itu terus berkembang dan usia yang kita miliki tidak akan mencukupi.

Sikap yang demikian itu perlu dimiliki selain agar tidak menimbulkan sikap sombong, juga agar ilmu yang dimilikinya itu tidak stagnan yang disebabkan kerana berhenti belajar. Orang yang merasa sudah cukup ilmunya, lalu ia berhenti belajar, maka sesungguhnya ia telah menjadi orang yang bodoh.

Berdasarkan uraian tersebut di atas terlihat dengan jelas bahawa Al Qur’an dan Hadith memiliki pandangan tentang pengembangan ilmu yang integrated(sepadu), sama ada pada dataran ontologis, epistemologis mahupun aksiologis. Pandangan ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan pandangan pengembangan ilmu-ilmu tersebut digunakan untuk tujuan-tujuan yang menghancurkan martabat manusia, termasuk manusia yang menciptakan ilmu pengetahuan itu sendiri.

5.0. PANDANGAN AL QUR’AN DAN AL SUNNAH TENTANG INTEGRASI ILMU AGAMA DENGAN ILMU UMUM

Sebagaimana disebutkan di atas, bahawa menurut pandangan Al Qur’an dan Sunnah sesungguhnya tidak ada istilah ilmu agama dan ilmu umum. Yang ada hanya ilmu itu sendiri dan seluruhny bersumber dari Allah Swt. Namun dilihat dari sifat dan jenisnya sulit dihindari adanya paradigma ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum atau paling tidak paradigma tersebut hanya untuk kepentingan teknis dalam membedakan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya.

Abuddin Nata et.al (2005) menyatakan bahawa Integrasi ilmu agama dan ilmu umum akan mengingatkan kita tentang hubungan agama (wahyu) dengan bidang politik. Jika di kalangan masyarakat Barat yang sekularitik ilmu dijauhkan dari agama dengan mengatakan bahawa ilmu pengetahuan adalah urusan universitas, politik urusan istana dan agama urusan gereja, maka dalam Islam  sekurang-kurangnya ada tiga pandangan sebagai berikut.

Pertama, aliran yang berpendirian bahawa Islam bukan lah semata-mata agama dalam pengertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan, sebaliknya Islam adalah satu agama yang sempurna dan yang lengkap dengan pengaturan segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. Para penganut aliran ini, pada umumnya berpendirian bahawa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Di dalamnya terdapat pula antara lain ketatanegaraan atau politik. Oleh kerana itu dalam bernegara umat Islam hendaklah kembali kepada system kenegaraan Islam, dan tidak perlu atau bahkan jangan meniru system kenegaraan Barat. Tokoh-tokoh terkemuka dalam aliran ini antara lain Syekh Hasan al Bana, Sayyid Qutub. Syekh Muhammad Rasyid Ridha dan yang paling vocal adalah Maulana A.A.Al Maududi.

Kedua, aliran yang berpendirian, bahawa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Muhammad hanyalah seorang rasul biasa seperti rasul-rasul sebelumnya dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai satu Negara. Tokoh-tokoh terkemuka aliran ini adalah Ali Abd.Raziq dan Thaha Husein.

Ketiga, aliran yang menolak pendapat bahawa Islam adalah suatu agama yang serta lengkap dan juga dalam Islam terdapat system ketatanegaraan. Aliran ini juga menolak anggapan bahawa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan manusia dan Maha Penciptanya. Aliran ini berpendirian bahawa dalam Islam tidak terdapat system ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Di antara tokoh aliran ini yang cukup menonjol adalah Muhammad Husein Haikal, seorang pengarang Islam yang cukup terkenal dan penulis buku “Hayatu Muhammad dan Fi Manzil al Wahyi” (Munawir: 1990).

Selanjutnya A. Malik Fadjar(1990) menambahkan satu aliran yang keempat, iaitu aliran yang mengatakan bahawa Islam adalah petunjuk hidup yang menghidupkan. Islam tidak memberikan petunjuk terhadap semua aspek kehidupan manusia yang bersifat baku dan operasional. Kerana hal ini akan mematikan kreativitas dan memasung kebebasan manusia. Yang diberikan petunjuk secara resmi dan operasional oleh Islam hanyalah hal-hal yang dianggap khusus, krusial dan memang tidak memerlukan kreativitas pemikiran manusia. Misalnya masalah ibadah mahdhah dan beberapa hal yang berhubungan dengan keluarga, seperti kedudukan dan hubungan kekeluargaan, masalah perkawinan dan waris.

Keempat pendapat tersebut sebenarnya tidak ada yang paling benar, sehingga yang satu menyalahkan yang lain. Kerana persoalan pemahaman sebenarnya tidak ada bersifat relative kebenarannya. Sedangkan kebenaran absolute hanyalah Islam itu sendiri. Namun, dalam kaitannya dengan persoalan hidup dan kehidupan ini, menurut A. Malik Fadjar adalah pendapat ketiga dan keempat lebih mendekati kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, antara lain memudahkan dan mendorong kepada kemajuan. Pandangan tentang hubungan agama dan masalah politik serta keduniaan sebagaimana tersebut di atas sedikit banyak akan membantu kita dalam memahami hubungan atau integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum sebagaimana  yang menjadi fokus pembahasan ini.

Menurut Hasan M. Noer (2001) menyatakan di kalangan para ahli masih terdapat perdebatan yang sengit di sekitar hubungan antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal pertentangan ini sebenarnya tidak perlu terjadi kerana ilmu agama itu sendiri pada hakikatnya adalah hasil ijtihad manusia yang tidak terlepas dari kesalahan sebagaimana juga ilmu umum merupakan hasil ijtihad. Bezanya terletak pada dasar ontologis, epistemologis dan aksiologisnya sahaja. Ilmu agama bertolak dari wahyu atau berada dalam kerangka wahyu, yang menyebabkan proses pengembangan ilmu agama tersebut tidak sebebas pada ilmu umum. Namun siapa yang dapat memastikan bahawa ilmu agama tertentu masih sesuai dengan wahyu, kerana boleh jadi sesuatu dianggap agama, tapi sesungguhnya bukan agama.

Mengingat ilmu agama berbasis wahyu, maka sifat dan karakteristik dari wahyu selalu menjadi bahan perdebatan dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, walaupun antara ilmu agama dengan wahyu itu sendiri bisa saja terjadi perbezaan sebagaimana telah disinggung di atas. Dalam berbagai literature kita temukan paradigm agama sebagai berikut: bahawa agama berasal dari Tuhan, sedangkan ilmu bersal dari manusia; Tuhan bersifat Maha Benar, sedangkan manusia terkadang benar dan terkadang salah. Selanjutnya agama bersifat absolut dalam arti tidak terkena perubahan dan kekurangan dan berlaku sepanjang zaman. Sedangkan ilmu bersifat nisbi. Agama bersifat pasti sedangkan ilmu bersifat relative. Agama tidak terbatas masa berlakunya, sedangkan ilmu bersifat terbatas. Agama berlaku sepanjang zaman, sedangkan ilmu hanya berlaku dalam kurun waktu tertentu sahaja. Agama bertolak dari keyakinan sedangkan ilmu bertolak dari keragu-raguan, agama bersumber pada wahyu yang mutlak benar, sedangkan ilmu bertolak dari hasil akal pikiran, agama bersifat ideal, sedangkan ilmu bersifat empiristik, agama berbicara tentang yang gaib sedangkan ilmu berbicara tentang yang reality.(Mulyanto:2000, AB. Shah: 1986, C. Verhaak & Haryono:1991)

Uraian di atas memperlihatkan bahawa ternyata paradigma agama dengan paradigma ilmu pengetahuan itu berbeza. Sedangkan paradigma ilmu agama dan paradigma ilmu umum disamping memiliki perbezaan juga memiliki persamaan. Perbedaannya terletak bahawa pada ilmu agama ada keterikatan yang kuat pada agama sedangkan pada ilmu umum keterikatan tersebut tidak ada. Sedangkan persamaannya terletak pada keadaannya yang bersifat relative, dapat berubah, dapat diperdebatkan, tidak selamanya benar dan seterusnya sebagaimana juga yang terdapat pada ilmu pengetahuan umum.

Abuddin Nata et.al (2005), menyatakan bahawa Al Qur’an dan Hadith Rasulullah Saw dengan ayat-ayat dan matan yang ada didalamnya mencoba menawarkan sesuatu penyelesaian atas terjadinya hal-hal yang sepertinya bertentangan, tapi sesungguhnya tidak demikian.berkaitan dengan hal itu, akan dikemukakan beberapa contoh sahaja, yang memperlihatkan bahawa antara agama dan ilmu pengetahuan saling memerlukan dan tidak bertentangan. Hal ini dapat dikemukan sebagai berikut:

Pertama, agama menyuruh manusia berfikir, menggunakan akal pikiran dan segenap potensi lainnya yang dimiliki sebagaimana tercermin pada ayat-ayat Al Qur’an yang menggunakan istilah tatafakkarun, tatadabbarun, tatazakkarun, ta’akkul, tafaquuh, intidzar, iqra’, tafahhum, tabassarun dan seterusnya. Istilah-istilah itu mengacu kepada keharusan berpikir, merenungkan sesuatu yang tersirat mengingat ciptaan Allah, memeras akal pikiran, memahami agama, mengobservasi dan menemukan. Perintah-perintah agama yang demikian dapat dijumpai prakteknya dalam ilmu pengetahuan. Dengan kata lain ilmu pengetahuan merupakan perintah agama.

Kedua, di dalam wahyu terdapat perintah Allah untuk melaksanakan ibadah, mengolah alam dalam rangka pelaksanaan fungsi sebagai khalifah di muka bumi, memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan lain sebagainya. Untuk dapat melaksanakan semua perintah agama ini jelas memerlukan agama. Dengan kata lain perintah mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam terintegrasi dengan perintah melaksanakan ibadah dan lainnya. Nabi Muhammad Saw dalam hadithnya sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Ruslan dalam Kitab al Zubad mengatakan: “Setiap orang yang melakukan perbuatan tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan, maka ibadahnya tidak akan diterima Tuhan”.

Ketiga, agama berisikan ajaran tentang moralitas dan akhlak mulia, seperti ajaran tentang bersyukur dan ibadah kepada Allah, berbuat salih dan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan manusia. Agama juga menjelaskan abagaimana seharusnya berusaha dan berbuat yang baik di dunia ini? Untuk apa hidup ini? Dan kemana seharusnya aktivitas kita dipertanggungjawabkan? Ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab semua pertanyaan ini.  Semua pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh agama. Di satu pihak ilmu pengetahuan dan teknologi melalui berbagai teori yang dirumuskannya telah menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan bagi manusia, seperti kemudahan berkomunikasi, kemudahan dalam mendapatkan makanan, minuman, pakaian, kendaraan dan berbagai kenikmatan lainnya. Namun, ilmu pengetahuan dan teknologi yang menawarkan berbagai kemudahan tersebut tidak tahu tujuan apa yang hendak dicapai dengan semua itu. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan telah menghasilkan kemajuan untuk mencapai percepatan mencapai tujuan. Namun, ilmu pengetahuan itu tidak tahu tujuan apa yang hendak dicapai dengan semua itu. Agamalah yang memberikan landasan dan arah bagi penggunaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Untuk itu tepat sekali ungkapan Albert Einstein yang mengingatkan bahawa ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta (Science without religion is blame).

Keempat, agama berfungsi membenarkan, melengkapi dan mengoreksi terhadap berbagai temuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bisa jadi sampai kepada kebenaran yang sesuai dengan yang dinyatakan dalam agama. Terhadap keadaan yang demikian agama membenarkannya. Dalam keadaan demikian agama berfungsi  sebagai penguat (konfirmator). Ilmu pengetahuan yang berbasiskan pada akal misalnya mengatakan bahawa mencuri itu tidak baik kerana merugikan orang lain dan agama pun membenarkannya. Ilmu pengetahuan kadang tidak mengetahui semuanya, kerana memiliki keterbatasan. Dalam keadaan yang demikian agama datang menyempurnakannya. Ilmu pengetahuan misalnya tidak tahu bahawa setelah mati ada kehidupan akhirat, atau berzina itu dilarang. Dalam keadaan demikian, agama datang memberitahu bahawa perkara itu tidak baik. Dengan demikian antara agama dan ilmu pengetahuan dalam pandangan islam bukan untuk dipertentangkan melainkan untuk saling melengkapi, dengan catatan harus bertolak dari keyakinan dan reality yang objektif bahawa ilmu pengetahuan sifatnya terbatas dan nisbi. Dengan sifatnya yang demikian itu tidak dimungkinkan ilmu pengetahuan menentang keputusan agama.

Kelima, agama berbicara tentang kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia harus menjadi sarana atau media untuk mencapai hidup bahagia di akhirat. Untuk itu agama memerlukankan sarana kehidupan duniawi. Kerana itu kehidupan duniawi memerlukan dukungan ilmu pengetahuan agama itu memerlukan bimbingan agama.

Keenam, agama berbicara tentang alam gaib, dan kepercayaan terhadap alam gaib ini termasuk hal yang amat ditekankan dalam Al Qur’an dan menjadi salah satu cirri dari orang yang bertaqwa iaitu orang yang percaya kepada alam gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezekinya, percaya kepada yang diturunkan kepda Nabi Muhammad Saw dan kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Sebelumnya, serta percaya kepada hari kiamat.

Beriman kepada yang gaib sebagaimana yang disebutkan di atas, dalam Al Qur’an diertikan sebagai sesuatu yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang gaib iaitu mengiktikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera, kerana ada dalil yang menunjukkan adanya, seperti adanya Allah, malaikat-malaikat, hari kiamat dan sebagainya.

Adanya yang gaib ini sama sekali tidak bertentangan dengan sifat ilmu pengetahuan yang bertumpu pada hal-hal yang empiris, rasionalistik dan realistic. Berbagai temuan para ilmu mutakhir telah sampai pada kesimpulan bahawa antara yang gaib dan yang tampak terdapat hubungan fungsional yang intensif dan saling mengisi (Moeflich, 2000). Dengan sifatnya yang terbatas, ilmu pengetahuan akan samapai pada batas tidak lagi melihat sesuatu hanya dengan mata kepala atau dengan menggunakan peralatan observasi super canggih sekalipun. Namun, perlu diingat, bahawa benda atau sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata atau peralatan yang canggih itu bukan tidak ada atau menghilang. Benda itu tetap ada. Dan dengan melalui konsep iman kepada yang gaib itu, kebuntuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan tersebut akan tdapat teratasi. Dengan percaya pada yang gaib, mata yang digunakan sudah bukan mata mata kepala lagi, tetapi dengan mata hati, dan mata hati ini ada pada manusia. Dengan bantuan konsep yang gaib ini ilmu pengetahuan akan terbebas dari kebuntuan, ia ditolong dari ketidakberdayaannya, dan pada gilirannya ia akan tetap eksis secara fungsional dalam menjelaskan berbagai masalah yang dihadapi. Dengan cara demikianlah ilmu pengetahuan dan agama seharusnya bekerja sama.

6.0  RUMUSAN

Integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum atau yang biasa dikenal dengan islamisasi ilmu pengetahuan adalah merupakan sebuah tanggung jawab moral para ilmuwan dalam rangka menyelamatkan peradaban umat manusia. Integrasi ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum merupakan bahagian daripada islamisasi ilmu pengetahuan. Baik ajaran Al Qur’an mahupun Hadith ternyata amat kaya dengan kerangka pengembangan ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan agama mahupun ilmu pengetahuan umum. Al Qur’an dan Hadith selain memberikan landasan ontologism dan epistomologis dan juga landasan aksiologis. Dengan landasan ini, kerangka pengembangan ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam lebih utuh, kokoh, komprehensif dan sejalan dengan perkembangan umat manusia.

RUJUKAN

Abuddin Nata, Suwito, Masykuri Abdillah dan Armai Arief, 2005, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, Jakarta: Rajawali Press

Al Sayyid Ahmad Hasyimi, 1948, Mukhtar al Hadith al Nabawiyah, Mesir: Mathba’ah Hijaz bi al Qahirah

A.Malik Fadjar, 1990, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Fadjar Dunia

AB. Shah, 1986, Metodologi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Armai Arief,tt, Pendidikan Integralistik: Pemikiran dan Pergerakan Mohammad Matsir dalam Pendidikan, Jakarta: Rajawali Press

C. Verhaak dan Haryono, 1991, Filsafat Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Gramedia

Ismail Al Faruqi, 1984, Islamisasi Pengetahuan (terj) oleh Anas Mahyuddin, dari Islamization of Knowledge, Bandung: Pustaka

Ismail Al Faruqi, 1982, Pengislaman Ilmu (terj Mustaffa Kasim), Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka

Hasan M. Noer, 2001, Agama di Timur Tengah Kemelut, Jakarta: Media Cipta

Harun Nasution, 1978, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang

Haidar Putra Daulay, 2009, Dinamika Pendidikan Islam Di Asia Tenggara, Jakarta: Rineka Cipta

Ikhrom, 2001, Dikhotomi Sistem Pendidikan Islam; Upaya Menangkap Sebab-sebab dan Penyelesaiannya, dalam buku Paradigma Pendidikan Islam (ed) Ismail SM, et.al, Yogyakarta: Pustaka Pelahar

Moeflich  Hasbullah, 2000, Gagasan dan Perdebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Cidesindo

Mulyanto, 2000, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Jakarta: LSAF

Muhammad Djakfar, 2002, Islamisasi Pengetahuan: dari Tatanan Ide ke Praktis, dalam buku Quo Vadis Pendidikan Islam (ed) Mudjia Raharjo, Malang: Cendekia Paramulya

Munawir Sjadzali, 1990, Islam dan Tata Negara, Agama, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: UI Press

Naquib al Attas, 1992, Konsep Pendidikan Islam, Bandung: Mizan

Rosnani Hashim & Imron Rossidy, 2000, Islamization of Knowledge: A comparative Analysis of Conceptions of Al Attas and Al Faruqi, Intelectual Discourse Journal 8 (1)

Syed Hosein Nasr,1983, Islam dan Nestapa Manusia Modern, Bandung: Mizan

Tajul Arifin,1987, Pendekatan Islam dalam Pendidikan, Jurnal Pendidikan Islam, Thn 2, Bil 5, ABIM

Osman Bakar, 1998, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung: Mizan

Quraish Shihab, 1996, Wawasan Al Qur’an Tafsif Maudhu’I atas pelbagai persoalan Umat, Bandung: Mizan

Quraish Shihab, 1997, Membumikan Al Qur’an, Bandung: Mizan

Ziauddin Sardar, 1986, Jihad Intelektual Merumuskan Parameter-Parameter Sains Islam, terj AE Priyono, Surabaya: Risalah Gusti


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: